Support
  • Erma Pawitasari, M.Ed
    Erma Pawitasari, M.Ed
    Alumni Boston University AS
    Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
    Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
  • Pendidikan Sukses Dunia Akhirat | 5 April 2011

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Ibu, pendidikan seperti apa yang bisa membawa kesuksesan dunia dan akhirat? Mohon penjelasannya.

    Hamba Allah, HP.+628588******

  • Bapak/Ibu Hamba Allah yang dirahmati Allah,

    Pendidikan yang membawa kesuksesan dunia dan akhirat sudah banyak didefinisikan oleh para ulama kita. Ibn Taimiyah, misalnya, mengatakan bahwa orang yang mencari ilmu tanpa niat baik atau berniat baik tanpa ilmu atau melakukan keduanya tanpa mengikuti ajaran Islam adalah orang yang tersesat. Ibn Sina juga berpendapat bahwa pendidikan harus ditujukan untuk Allah SWT. Ibn Khaldun menegaskan bahwa konsep pendidikan yang terpenting adalah pemahaman fakta, dan Allah adalah fakta yang paling fundamental dan segala eksistensi di dunia ini bergantung padaNya. Oleh karena itu, menurut Ibn Khaldun, intepretasi keilmuan di segala bidang ilmu tidak boleh terlepas dari ajaran agama.

    Para ulama pendidikan kita bersepakat bahwa pendidikan yang benar adalah pendidikan yang ditujukan untuk mencari ridlo Allah dan dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan inilah yang akan membawa kesuksesan dunia dan akhirat.

    Bagaimana Pendidikan Agama Membawa Kesuksesan Dunia?

    Membaca konsep pendidikan para ulama kita tentu di benak kita muncul pertanyaan: “Bagaimana pendidikan agama bisa membawa kesuksesan dunia? Sesungguhnya, pertanyaan ini sangat wajar dikarenakan kita lahir, hidup, tumbuh, dan berkembang di dunia dan masyarakat sekuler yang menganggap urusan dunia dan akhirat sebagai dua hal yang terpisah.

    Penerimaan konsep sekulerisme bervariasi. Ada yang secara total menolak aturan Islam tapi tetap mengaku sebagai orang Islam. Ada yang mengambil aturan Islam secara sebagian-sebagain; misalnya: rajin berhaji tetapi rajin pula korupsi, rajin sholat 5 waktu tetapi tidak berjilbab, berjilbab tetapi sholatnya lubang-lubang, berjilbab tetapi pacaran, atau berjilbab tetapi menjalankan bisnis haram.

    Dalam suasana kehidupan yang sekuler ini, maka kita banyak menyaksikan ketidaksinkronan antara profesi duniawi dengan tujuan hidup ukhrowi. Seorang profesor, misalnya, mendapatkan kesuksesan duniawi walaupun tidak belajar agama. Sementara, orang-orang yang berkecimpung di bidang agama, kehidupan dunianya sangat memprihatinkan: jorok, luntang-lantung, dan bergantung pada donasi masyarakat (catatan: tidak semuanya demikian, ini hanya penggambaran umum untuk menunjukkan kontradiksi agama dan dunia).

    Hal ini sangat jauh berbeda dengan kondisi kaum muslimin sebelum era sekulerisasi menimpa. Salah satu contoh bisa kita lihat pada sosok ulama besar kita Abu Hanifah, pendiri mahzab Hanafi. Mahzab disebut juga school of thought, dalam peradaban Barat bisa dikategorikan sebagai gurunya para profesor. Pada saat bersamaan, Abu Hanifah juga merupakan pedagang yang dermawan dan jujur. Beliau tidak menjadi beban umat, tetapi menjadi panutan umat. Kondisi ini tentu saja tidak lepas dari peran negara yang sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan (catatan: pada masa pra sekulerisasi, yang dianggap ilmu hanyalah yang sejalan dengan agama). Khalifah Harun ar-Rasyid, misalnya, membayar emas seberat buku yang ditulis kepada para ulama. Dengan demikian, dorongan untuk menekuni ilmu agama sangatlah besar.

    Perlu kita perhatikan pula, bahwa Islam memiliki definisi kesuksesan yang berbeda dengan konsep lain. Kesuksesan duniawi versi Islam bukanlah keberhasilan menumpuk kekayaan untuk anak-cucu tujuh turunan. Islam bahkan melarang kita untuk menumpuk harta dan membiarkan harta hanya berputar di kalangan orang-orang kaya. Kesuksesan juga bukan berarti memiliki seribu pelayan dan hidup di istana megah, sebagaimana cerita-cerita pangeran dan putri yang dicecokkan ke benak kita sejak kanak-kanak (termasuk cerita Barbie yang banyak dikonsumsi anak-anak kita). Kesuksesan model ini bertumpu pada penindasan, sebab seseorang hanya bisa menikmati kesuksesan jika ada seribu orang yang gagal dan harus puas menjadi pelayan. Orang yang sukses, menurut Islam, memiliki beberapa indikator, antara lain:
    1. Giat bekerja dan tidak mau berpangku tangan, lantaran berharap pahala dari Allah.
    2. Profesional, yakni jujur, bersih, selalu menepati janji, dan bersungguh-sungguh (memberikan usaha yang maksimal) karena berharap penilaian baik dari Allah.
    3. Berpartisipasi aktif untuk kemajuan masyarakat Islam.
    4. Hatinya selalu ridlo kepada Allah atas kondisi apapun yang menimpanya.

    Karena itulah, kita memerlukan perombakan kurikulum pendidikan, dari orientasi duniawi kepada tujuan mencari keridloan Allah. Tujuan duniawi menimbulkan ketidakadilan sosial, penyakit mental, kerusakan lingkungan dan tidak mendapatkan pahala di akhirat.

    Sumber : http://www.suara-islam.com/

Konsultasi Lainnya