Support
  • Erma Pawitasari, M.Ed
    Erma Pawitasari, M.Ed
    Alumni Boston University AS
    Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
    Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
  • Materi Belajar Pada Usia Dini | 5 April 2011

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.
    Dengan hormat,
    Teriring do'a semoga ibu selalu dalam lindungan Allah SWT, aamin. Melalui email ini kiranya ibu berkenan membantu saya. Bu, saya mempunyai seorang anak usia 3 tahun (anak pertama). Pertanyaan saya :
    1. Sudah pantaskah anak saya ini disuruh belajar ?
    2. Materi apa saja kiranya yang bisa diberikan pada seorang anak di usia 3 tahun.
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuan Ibu. Wassalamu'alaikum Wr Wb

    Hanafi n4f***@gmail.com

  • Wa’alaykum salam wr wb,

    Bapak Hanafi yang dirahmati Allah, pertama-pertama saya ucapkan terima kasih atas doa Bapak. Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan hati orang-orang yang beriman dan memberikan kemenangan kepada kita.

    Di era globalisasi ini, kita dihadapkan pada kondisi yang serba membingungkan. Di satu sisi, sebagian pakar mendorong natural development, yakni pembelajaran dengan mengikuti perkembangan usia anak, namun di sisi lain kita disuguhi dengan tawaran-tawaran menggiurkan untuk menjadikan anak kita menjadi anak super pada usia dini. Media pun menggambarkan kehebatan anak A yang bisa berbahasa asing pada usia dini, anak B yang bisa menghafal nama-nama pemimpin dunia, anak C yang disanjung-sanjung karena kepawaiannya dalam bermain piano, menyanyi, atau bermain sulap, dan anak-anak lain dengan gelar yang hebat-hebat. Media bahkan menghadirkan pakar yang mengkaitkan “prestasi” anak-anak ini dengan pendidikan pada usia emas, yakni usia 3 tahun, di mana otak anak mengalami perkembangan paling dasyat di sepanjang hidupnya. Akibatnya, kita pun didera ketakutan bahwa anak-anak kita akan tertinggal.

    Memang sudah semestinya jika kita tergopoh-gopoh dalam memikirkan pendidikan anak kita karena anak-anak adalah amanah Allah SWT yang wajib kita didik secara maksimal. Namun, sudahkah kita mengarahkan anak-anak kepada pendidikan yang benar? Ketika orang tua ingin anaknya cas-cis-cus berbahasa Inggris, apa tujuannya? Ketika orang tua ingin anaknya berprestasi, prestasi seperti apa? Masih banyak orang tua muslim yang berorientasi duniawi, bukan ibadah. Kesuksesan dan prestasi dilihat dari tolok ukur materi/duniawi sehingga pendidikan pun arah utamanya adalah mencari pekerjaan yang menjanjikan kemapanan ekonomi. Bahkan, ibu-ibu yang berjilbab rapat pun tak segan ikut mengantri mendaftarkan anaknya menjadi bintang dunia hiburan lantaran dunia hiburan menjanjikan ketenaran dan kemapanan ekonomi.

    Kaum muslimin seharusnya hanya memiliki satu orientasi, yakni bagaimana mendidik anak-anaknya mencintai Allah dan menjadikan keridlaan Allah sebagai tujuan hidupnya. Usia emas 3 tahun adalah masa yang tidak boleh terlewatkan untuk menanamkan akidah yang lurus dan kosakata yang baik. Anak-anak pada usia ini sangat mudah menyimpan dan menirukan setiap kata yang didengarnya. Apabila yang dia dengar adalah kosakata yang buruk, maka itulah yang akan menempel di benaknya dan mempengaruhi jiwanya. Oleh karenanya, kita harus benar-benar memfilter setiap pengaruh buruk dan membanjiri jiwa emas anak kita dengan kebaikan.

    Ibnu Sina, dalam bukunya al-Qanun fit-Tibb, menyebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak usia dini:
    1. Memilih pengasuh yang berakhlaq mulia. Pengasuh/orang tua wajib menunjukkan kesantunan akhlaq dalam perilaku sehari-hari. Akhlaq yang dicontohkan oleh orang tua/pengasuh akan tertancap dalam alam bawah sadar si anak sehingga kelak menjadi karakter baginya. Seseorang yang telah memiliki karakter Islam maka jiwanya akan selalu sejalan dengan Islam dan sulit baginya untuk menanggalkan hal tersebut. Berbeda dengan seseorang dengan karakter jahiliyah, maka dia harus berjuang untuk menampilkan akhlaq Islam.
    2. Mempertimbangkan kecenderungan alami si anak, kesukaannya dan ketidaksukaannya. Kecenderungan alaminya harus dipenuhi, sedangkan hal-hal yang bisa membangkitkan kemarahan harus disingkirkan. Orang tua wajib memahami rasa takut dan gelisah pada anak-anak, walaupun mungkin kita menganggapnya terlalu sepele. Rasa takut pada diri anak bukan untuk ditertawakan atau diabaikan, tetapi dijelaskan dengan kasih sayang sehingga mereka bisa melepaskan rasa takut tersebut dengan penuh percaya diri, bukan lantaran malu ditertawakan.
    3. Memilihkan makanan yang baik, mengenyangkan, namun tidak berlebihan. Ketamakan dalam makanan bisa menyebabkan anak mengalami mimpi buruk.
    4. Memperdengarkan syair dan musik yang mengandung nilai-nilai kebaikan, di samping ayat-ayat al-Qur’an dan hadist. Anak-anak sangat cepat menangkap dan mengikuti lagu-lagu. Lagu-lagu jahiliyah akan merusak otaknya, sementara lagu-lagu yang islami akan memacu kecerdasannya.
    5. Memberinya kesempatan bermain dan bereksplorasi sepuas hatinya. Anak-anak pada usia ini hendaknya tidak dipaksa untuk duduk manis dalam belajar. Bermain, bergaul, dan bereksplorasi adalah cara yang paling tepat bagi mereka untuk belajar.

    Bapak juga perlu memperbanyak koleksi cerita-cerita yang mengandung kebaikan, baik dalam bentuk buku bergambar maupun cerita lisan yang siap Bapak dongengkan pada saat-saat santai bersama anak. Demikianlah jawaban dari saya. Semoga bermanfaat.

    Sumber : http://www.suara-islam.com/

Konsultasi Lainnya